Gerhana rembulan hampir total.
Malam gelap gulita.
Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan.
Cahaya
matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan
karena ditutupi oleh bumi sehingga rembulan tidak bisa memantulkan
cahaya matahari ke permukaan bumi.
Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan rembulan.
Remblan
adalah para kekasih Allah, para Rasul, para Nabi, para Ulama, para
Cerdik Cendekia, para Pujangga dan siapapun saja yang memantulkan cahaya
matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi.
Karena bumi menutupi cahaya matahari, maka malam gelap gulita.
Dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi.
Orang
tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas, orang menyangka
kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan.
Orang bertabrakan satu sama lain.
Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain.
Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir,
kita memang sudah 'ngelilir' kita sudah bangun sudah bangkit bahkan
kaki kita sudah berlari kesana-kemari namun akal fikiran kita belum,
hati nurani kita belum.
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun
ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur didalam aliran darah dan jiwa
kita.
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik.
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling.
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya.
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni melarangnya untuk insyaf dan bertaubat.
Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur.
Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan.
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.
Siapakah selain Setan, Iblis dan Dajjal yang menolak khusnul khotimah
manusia, yang memblokade pintu surga, yang menyorong mereka mendekat ke
pintu neraka?
Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas.
Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak.
Sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan.
Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan melainkan asiknya perpecahan.
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan.
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah.
Yang kita perbarui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara.
Yang kita kembangsuburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta melainkan
mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri
hati.
Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang
mempergelap cahaya matahari sehinģga bumi kita sendiri tidak akan
mendapatkan cahayanya, atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita
sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa
dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali
ke bumi.
Tampilkan postingan dengan label Wajib Baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wajib Baca. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Mei 2015
Minggu, 06 Mei 2012
Siksa Kubur Sangat Pedih
Bertaubatlah selagi kalian masih memiliki kesempatan, karena siksa kubur akan amat sangat pedih bagi orang-orang yang tidak mau bertaubat kepada Allah SWT.
Tetapi setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan menginginkan untuk di identifikasi kebenaran penyebab kematiannya. Seluruh kerabat dan teman-temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi mayat. Mayat tersebut begitu berbeda dalam 3 jam. Dia berubah tampak ke abu-abuan seperti orang yang sudah tua.
Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung-ujungnya sehingga menekan kebadannya.
Seluruh badan dan mukanya memar. Matanya yang terbuka memperlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputus-asaan. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat.
10 Tempat Terlarang dan Berbahaya untuk HP
1. JANGAN TARUH DALAM SAKU CELANA
2. JANGAN LETAKKAN BERSAMA BARANG ELEKTRONIK
3.DEKAT KUNCI MOBIL
4.JANGAN POSISIKAN DEKAT KOMPUTER
5.MELETAKKAN DI TEMPAT BERSUHU TINGGI
6.HINDARI MELETAKKAN KARTU SIM DEKAT MAGNET
7.LOGAM
8.JGN DEKAT ALAT PACU JANTUNG
9.JANGAN DEKAT GAS YANG MUDAH TERBAKAR
10.HINDARI DAERAH BASAH

kalo yg satu ini para juragan pasti uda pada tahu kan..jadi ga usah dijelasin lagi.
11. Jangan Ditaruh di Saku Baju (dekat dada)
Jangan taro hp di saku baju (dkt dada) karena bisa mengakibatkan kanker payudara.
bagi para pria yg senang meletakkan Hp di saku celana sebaiknya berpikir
ulang. HP menghasilkan paparan medan elektrostatik dan elektromagnetik
yg mengakibatkan infertilitas (kemandulan). Berlaku buat cewe
juga loh
2. JANGAN LETAKKAN BERSAMA BARANG ELEKTRONIK
jgn gunakan HP ketika sinyal lemah dekat dgn barang elektronik
berpresisi tinggi (seperti TV,OVEN,KULKAS,dll). karena dpt merusak
sirkuit HP..
3.DEKAT KUNCI MOBIL
dalam keadaan tertentu HP yg digunakan dlm kendaraan akan memberikan
dampak merusak terhadap peralatan elektronik kendaraan. HP yg diletakkan
terlalu dekat dengan kunci mobil ternyata bisa menghapus kode
elektronik yg ada di kunci tsb..
4.JANGAN POSISIKAN DEKAT KOMPUTER
komputer dan HP sama2 memancarkan gelombang elektromagnetik. jika berada dlm jarak yg dekat, maka keduanya akan saling merusak.
5.MELETAKKAN DI TEMPAT BERSUHU TINGGI
tempat bersuhu tinggi,kelembapan tinggi, dan berdebu merupakan kumpulan musuh HP juragan.
6.HINDARI MELETAKKAN KARTU SIM DEKAT MAGNET
karena radiasi yg ditimbulkan.HP dpt merusak floppy disk, kartu memori dan kartu kredit juragan.
7.LOGAM
jauhkan HP dari benda logam kecil karena magnet dlm speaker HP akan menarik benda2 tsb dan HP mengalami kerusakan.
8.JGN DEKAT ALAT PACU JANTUNG
peralatan medis seperti alat pacu jantung dapat terganggu di karena gelombang elektromagnetik.
9.JANGAN DEKAT GAS YANG MUDAH TERBAKAR
gas berbahaya karena memiliki tekanan tinggi dan mudah terbakar. oleh karena itu HP jurgan tidak akan berfungsi dgn baik
10.HINDARI DAERAH BASAH
kalo yg satu ini para juragan pasti uda pada tahu kan..jadi ga usah dijelasin lagi.
11. Jangan Ditaruh di Saku Baju (dekat dada)
Jangan taro hp di saku baju (dkt dada) karena bisa mengakibatkan kanker payudara.
Kamis, 03 Mei 2012
Alkisah Malam Jum'at (Kisah Nyata)
Ini adalah kisah nyata dari keluarga yang bahagia dengan lika-liku jalan hidup. Kisah nyata ini saya dapatkan dari seorang teman facebook yang bernama Orion Saeba (nama facebook), beliau merupakan anggota MUI Provinsi Bengkulu. Silahkan dibaca dan dipahami dengan seksama. Semoga ada manfaatnya bagi kalian yang membacanya.Aamiin . . .
Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!” Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah. Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio. Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung. Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red). Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik. Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu. Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.
Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak. Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.” Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama. Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!” “Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono. “Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa. Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim. Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.” Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal. Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung. Sepeninggal Rio Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah. Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?” “Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat. Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah. Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.” Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan. Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban. “Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.” Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”. Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”. Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan. Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya. “Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono. “Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun. Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal. Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor. Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya. Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya. Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih,“Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.” Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam. Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.
Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak. Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.” Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama. Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!” “Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono. “Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa. Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim. Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.” Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal. Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung. Sepeninggal Rio Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah. Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?” “Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat. Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah. Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.” Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan. Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban. “Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.” Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”. Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”. Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan. Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya. “Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono. “Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun. Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal. Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor. Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya. Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya. Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih,“Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.” Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam. Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.
Jumat, 20 April 2012
Jangan Menilai Seseorang dari Bajunya (Ini Kisah Nyata)
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.
Mereka bertemu dengan sekretaris Universitas. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
Lalu si pria berkata kepada sekretaris itu, "Kami ingin bertemu dengan pimpinan Harvard". Kemudian sang sekretaris menjawab dengan cepat, "Beliau hari ini sibuk". "Kami akan menunggu", Kata wanita (istri).
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tapi ternyata tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi dan akhirnya melaporkan kepada pimpinannya.
"Mungkin mereka akan pergi jika anda menemui mereka selama beberapa menit", kata sang sekretaris kepada pimpinan. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia (pimpinan) pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senang sudah muncul.
Dengan wajah galak sang pemimpin Harvard pun menuju pasangan tersebut. Lalu sang wanita berkata kepada sang pimpinan. "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya di suatu temapt di kampus ini, bolehkah?"
Sang pemimpin sama sekali tidak tersentuh dengan kata-kata wanita tersebut, wajahnya memerah. Dia tampak terkejut lalu ia berkata kepada wanita tersebut. "Nyonya (katanya dengan kasar), Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita melakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan". Kemudian sang wanita menjelaskan dengan cepat. "Oh bukan, Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan tetapi kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard".
Sang pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak dengan lantang. "Sebuah gedung??????? Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard".
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang pemimpin mulai merasa senang. Mungkin dia terbebas dari mereka berdua. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata dengan pelan. "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah Universitas, kenapa kita tidak membuat sendiri saja?". Sang suami hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian wajah sang pemimpin Harvard mulai tampak kebingungan.
Setelah beberapa saat kemudian, Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sekata lagi kepada pemimpin Harvard dan langsung melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favourit kelas atas di AS.
Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap kali silau oleh baju dan lalai. Padahal baju hanyalah bungkus, apa yang disembunyikannya kadan sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju acap kali menipu.
Marilah kita menghargai setiap orang dan jangan melakukan penilaian kepada orang dengan hanya melihat tampilan luarnya saja. Karena itu dapat menyesatkan kita bahkan sangat merugikan kita, seperti apa yang dilakukan pimpinan Harvard itu. Ingat! penyesalan datangnya di belakang dan tidak akan pernah ada penyesalan yang datang di depan.
Mereka bertemu dengan sekretaris Universitas. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
Lalu si pria berkata kepada sekretaris itu, "Kami ingin bertemu dengan pimpinan Harvard". Kemudian sang sekretaris menjawab dengan cepat, "Beliau hari ini sibuk". "Kami akan menunggu", Kata wanita (istri).
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tapi ternyata tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi dan akhirnya melaporkan kepada pimpinannya.
"Mungkin mereka akan pergi jika anda menemui mereka selama beberapa menit", kata sang sekretaris kepada pimpinan. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia (pimpinan) pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senang sudah muncul.
Dengan wajah galak sang pemimpin Harvard pun menuju pasangan tersebut. Lalu sang wanita berkata kepada sang pimpinan. "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya di suatu temapt di kampus ini, bolehkah?"
Sang pemimpin sama sekali tidak tersentuh dengan kata-kata wanita tersebut, wajahnya memerah. Dia tampak terkejut lalu ia berkata kepada wanita tersebut. "Nyonya (katanya dengan kasar), Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita melakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan". Kemudian sang wanita menjelaskan dengan cepat. "Oh bukan, Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan tetapi kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard".
Sang pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak dengan lantang. "Sebuah gedung??????? Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard".
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang pemimpin mulai merasa senang. Mungkin dia terbebas dari mereka berdua. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata dengan pelan. "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah Universitas, kenapa kita tidak membuat sendiri saja?". Sang suami hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian wajah sang pemimpin Harvard mulai tampak kebingungan.
Setelah beberapa saat kemudian, Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sekata lagi kepada pemimpin Harvard dan langsung melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favourit kelas atas di AS.
Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap kali silau oleh baju dan lalai. Padahal baju hanyalah bungkus, apa yang disembunyikannya kadan sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju acap kali menipu.
Marilah kita menghargai setiap orang dan jangan melakukan penilaian kepada orang dengan hanya melihat tampilan luarnya saja. Karena itu dapat menyesatkan kita bahkan sangat merugikan kita, seperti apa yang dilakukan pimpinan Harvard itu. Ingat! penyesalan datangnya di belakang dan tidak akan pernah ada penyesalan yang datang di depan.
Sabtu, 31 Maret 2012
RAHASIA ASHHABUL KAHFI
(Dyqianus). Untuk selanjutnya, kami rasa orang sudah banyak yang tahu hasil akhir ceritanya, apalagi Al Qur’an sendiri sudah menegaskannya dengan sangat jelas
Di sini tidak akan dikemukakan secara detail cerita lengkapnya dari awal hingga akhir. Apa yang akan dijelaskan hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa ashhabul kahfi menurut dunia sains.
Gua para ashhabul kahfi ini tertidur terletak di sebuah kampung bernama Al Rahiib di wilayah Yordania. DR. Rafiq Wafa Al Dujani, seorang arkeolog asal Yordania, pada tahun 1963 melakukan riset terhadap gua ini. Pada gua ini didapati 8 buah makam dan rahang anjing (rahang atas) di dekat pintu gua. Jumlah ashhabul kahfi ada 7 orang termasuk sang penggembala, sementara yang kedelapan adalah anjingnya. Jika yang lainnya dikuburkan secara berdampingan, maka si anjing dikuburkan di depan pintu gua, tempatnya berjaga dulu.
Di tahun yang sama, Direktorat Benda Bersejarah Yordania dipimpin oleh DR. Rafiq Wafa Al Dujani, melakukan penggalian di wilayah Sahab atau sekitar 13 km sebelah tenggara kota Amman, ibukota Yordania. Dari penggalian itu ditemukan bukti-bukti sebagai berikut:
Bukti Sejarah
Di atas gua ditemukan sebuah bangunan yang dulunya diperkirakan adalah sebuah bangunan tempat ibadah. Bangunan itu terdiri dari 7 buah tiang batu yang tingginya tidak sempurna berbentuk bulat. Selain itu juga ditemukan sebuah mihrab berbentuk setengah lingkaran tepat di atas pintu gua. Sedangkan di antara sisa-sisa tiang masjid terdapat sumur masjid yang dulunya digunakan untuk tempat berwudhu. Masjid tersebut mengalami renovasi berulangkali, termasuk saat Khalifah Al Muwaffaq dari Dinasti Abbasiyah berkuasa. Agaknya, tempat ibadah ini sengaja didirikan oleh salah satu penguasa tak lama berselang setelah para ashhabul kahfi meninggal dunia. Lalu oleh penguasa-penguasa selanjutnya bangunan ini dilestarikan dan berulangkali direnovasi hingga sekarang.
Selain itu, di dalam gua juga ditemukan lemari kaca berisi tulang tengkorak anjing, beberapa keping uang logam, gelang dan cincin, manik-manik serta bejana yang terbuat dari tanah.
Image Hosted by ImageShack.us
Bukti geologi
Pakar geologi Nazhim Al Kailani menegaskan, debu gua dan wilayah Ar Raqiim bisa membantu menjaga kebugaran tubuh. Debu ini terdiri dari karbohidrat, kalsium, magnesium, serta galian tumbuh-tumbuhan dan binatang yang kaya radium. Bahan-bahan ini terdapat pada uranium dan turanium bersinar yang di antara keistimewaannya adalah menghasilkan sinar alfa, beta, dan gama. Jenis-jenis sinar ini memiliki pengaruh sangat besar untuk mensterilkan daging, tumbuh-tumbuhan, serta menjaga dan mengawetkan.
Al Kailani meyakini bahwa keberadaan jenis debu (tanah) dengan segala jenis unsur dan keasaman yang terkandung didalamnya tersebut, jika direaksikan dengan sinar matahari, akan menjadi sarana pengawet jasad yang sangat baik.
Agar para Ashhabul Kahfi ini dapat tidur secara pulas dan tepat selama kurun waktu ratusan tahun, maka Allah swt melakukan hal-hal berikut:
Menonaktifkan indera pendengaran
”Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al Kahfi: 11)
Artinya, aktifitas pendengaran mereka benar-benar dihentikan secara total untuk sementara waktu. Yang demikian itu karena indera pendengaran adalah satu-satunya indera yang terus bekerja terus-menerus meskipun orang sedang tidur atau bahkan koma sekalipun. Jadi, untuk menghindarkan para ashhabul kahfi ini terjaga sewaktu-waktu, maka indera pendengaran mereka harus dinonaktifkan untuk sementara waktu.
Menghentikan tugas organ penggerak (scending reticular activating system) yang ada pada pangkal otak (Brainstem).
Syaraf ini sendiri memiliki dua tugas; pertama, bertanggung jawab atas indera pendengaran, dan kedua bertugas untuk menstabilkan badan bagian dalam dan luar. Karena itulah Allah berfirman, ”Kami tutup telinga mereka...” dan bukan ”Kami tutup pendengaran mereka..” Artinya, penonaktifan fungsi-fungsi tubuh ini akan menyebabkan seorang manusia tertidur dengan sangat pulas karena kepekaannya kepada daya rangsang dibuat tidak sensitif. Indera pendengarnya seperti mati dan syaraf penggeraknya tak merasakan sakit, lapar, haus atau gangguan-gangguan lainnya.
Sel dan jaringan hidup dalam tubuh mereka dipertahankan dalam temperatur panas rendah dan dibiarkan tidak berkembang, namun uniknya juga dijaga agar jangan sampai mati.
Menjaga tubuh dalam keadaan tetap sehat secara medis
Allah swt berfirman:
” Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al Kahfi: 18)
Tubuh mereka terus-menerus dibolak-balik dengan tujuan agar fisik mereka tidak rusak karena pengaruh alas tidur mereka pada badan mereka.
Di sini sinar matahari juga berperan penting. Setiap hari tubuh mereka disinari oleh cahaya matahari di setiap pagi dan sore hari. Cahaya matahari ini berfungsi untuk memperkuat tulang-tulang serta jaringan tubuh dengan vitamin (vitamin D). Selain itu, cahaya matahari juga berfungsi untuk mencegah gua dalam keadaan terlalu lembab dan pengap.
Andai saja waktu itu ada orang yang melihatnya, kondisi mereka ini benar-benar akan dipandang aneh. Mereka bukan orang mati, orang yang melihatnya akan mengira kalau mereka sebenarnya sedang terjaga karena bisa bergerak-gerak dan berbolak-balik. Tapi orang juga akan merasa ketakutan karena mereka juga menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka bukan orang yang sedang terjaga dari tidur.
Demikianlah, catatan-catatan yang kami buat di atas bisa saja salah perkiraan. Sebagai manusia kita hanya bisa membuat prediksi tentang peristiwa yang mungkin saja terjadi di masa lalu. Adapun kebenarannya kita serahkan kembali kepada ilmu Allah swt, Yang Maha Mengetahui segala hal. Wallahua’lam bi shawab.
Langganan:
Komentar (Atom)
